Song foR gaZa, micHeaL hearT’s Lyric

January 18th, 2009
Posted in Uncategorized
No Comments

A Song for Contemplation

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart for free distribution)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

from: http://www.michaelh eart..com/ Song_for_ Gaza.html

Bookmark and Share

BACA DENGAN BAIK DAN BENAR

January 7th, 2009
Posted in Uncategorized
No Comments

Menuurt sbeauh penilitean di Cmabrigde Uinervtisy, tdaik mejnadi maslaah bgaimanaa urtaun huurf-huurf di dlaam sebauh ktaa, ynag palngi pnteing adlaah leatk hruuf partema dan terkhair itu bnaer. Ssianya dpaat brantaaken smaa skelai dan kmau maish dpaat mebmacanya tnpaa msaalah. Hal ini kerana oatk masunia tdaik mambeca seitap huurf msaing-msaing, tatepi ktaa kesuleruhan

Manejkubakn naggk?

Bookmark and Share

mahasiswa, kini & akan datang

February 29th, 2008
Posted in Uncategorized
2 Comments

Mahasiswa, kini dan akan datang
Siapa yang tidak kenal dengan mahasiswa…

Siapa pula yang tidak tahu sepak terjang mahasiswa….?

Sejak zaman kemerdekaan, reformasi hingga sekarang, mahasiswa telah menjadi “kritikus ulung” pada wajah perpolitikan Indonesia. Tidak sedikit ‘nasehat” yang dilontarkan oleh mahasiswa, mampu memerahkan kuping para pejabat. Tidak sedikit pula perubahan yang diawali oleh “rajukan’ yang diajukan rekan-rekan mahasiswa.

Lihat saja tragedy  “Mei 1998”. Masa runtuhnya rezim jendral besar soeharto (alm). Turunnya presiden yang telah berkuasa 3 dekade lamanya, tidak lain dan tidak bukan, ada campur tangan mahasiswa juga

‘auditor publik’, mungkin itulah mahasiswa. Sebagai penasehat setia pemerintahan, setiap langkah pemerintah yang dinilai tidak adil, langsung dikritisi. tidak tanggung-tanggung, dengan menghadirkan banyak massa.  mungkin setiap gerak-gerik pejabat, tidak ada yang luput dari pengamatan mahasiswa.

Saking amanahnya menjalankan tugas sebagai “penasehat sukrela”, sebagian pejabat atau orang-orang ‘berdasi” merasa kebal dengan kritikan. Tetapi, hal ini tidak menjadi hambatan bagi kawan-kawan mahasiswa. Bahkan, makin hari semakin bermunculan aktivis-aktivis yang menyuarakan aspirasinya atas nama rakyat Indonesia. Kelahiran aktivis-aktivis tersebut seperti tak terbendung. Dari berbagai kampus, dengan basic apapun. Selama kebijakan pemerintah dinilai belum “bijak”, penasehat sukarela inipun takkan berhenti memberi nasehat. Dengan cara apapun….

Sebuah pendapat dari kawan mahasiswa mengatakan, ‘Mahasiswa sebagai agen perubahan, begitulah identitas yang selayaknya terus mengakar dalam diri mahasiswa. Mereka ada untuk menjadikan perubahan. Mereka ada untuk memberikan perbaikan. Mereka ada untuk masyarakat yang sejahtera secara adil dan merata, serta untuk Indonesia yang lebih baik.apalagi,’ mahasiswa adalahh generasi muda penerus bangsa. Mungkin karena inilah, yang menjadikan mahasiswa merasa terpanggil untuk berperan serta dalam membangun Indonesia yang lebih baik.

Hal ini tentu membanggakan. Bagaimana tidak, jika nantinya, pemerintahan akan diteruskan oleh mantan “penasehat sukarela” yang kini, saat masih mahasiswa, gemar menyuarakan keadilan. Berarti, beberapa tahun lagi, Negara akan menjadi lebih baik  sebagaimana yang disuarakannya saat ini.

Benarkah…………?

Kenyataannya, saat inipun kondisi Negara kita masih carut marut. Padahal, tidak sedikit mantan aktivis mahasiswa yang dulunya mengkritik pemerintah yang kini duduk di pemerintahan. Bahkan ada juga pelaku korup dan tindak penyelewengan lain, dilakukan oleh mantan aktivis. Mungkin godaan dalam pemerintahan sangat besar. Atau, menjadi praktisi tidak semudah saat mengkritisi. Sehinngga akhirnya, dari idealisme awal yang lurus, mulai sedikit membelok, dan akhirnya melenceng sama sekali. Akibatnya, seperti yang kita lihat saat ini, mantan aktivis yang sudah menikmati empuknya kursi  ‘berharga’ sudah lupa dengan apa yang pernah disuarakannya.

Akankah generasi kita menjadi seperti itu…………?

Semoga aktivis mahasiswa saat ini, tidak mudah pikun dengan apa yang pernah disuarakannya setelah menduduki “kursi panas” pemerintahan dan siap untuk di “nasehati” oleh “penasehat sukarela” yang baru.
Alangkah indahnya jika hal itu akan terlaksana esok.
Semoga…!!!!

HamaSah yang sunYi

Jogjakarta, 1 March 2008
01:24 AM

Bookmark and Share

ayat2cinTa the moVie

February 22nd, 2008
Posted in Uncategorized
No Comments

pengumuman……..

buat yang udah baca novelnya kang Abik yang berjudul "AYAT-AYAT CINTA"…..

mendingan gak usah nonton pelemnya dweh………

bagus novelnya timbang bukunya……….

walaupun dua-duanya gak gitu bagus c,

lagean setting mesirnya aja gak ada

sCara syutingnya aja gak di mesir……….

Confused  Confused  Confused  Confused  Confused  Confused  Confused  Confused  Confused

Bookmark and Share

SABAR DAN SHOLAT

February 8th, 2008
Posted in Uncategorized
No Comments

PENGARUHNYA  DALAM

MENYELESAIKAN PROBLEMATIKA HIDUP

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

” Dan mintalah pertolongan ( kepada ) Allah dengan sabar dan sholat.

Dan sesungguhhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’ , ( yaitu ) orang-orang yang menyakini , bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepad-Nya ” ( QS Al Baqarah : 45 -46 )

Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran :

Pelajaran Pertama :

Bahwa
Allah memerintahkan seluruh hamba-Nya untuk selalu bersabar dan
menegakkan sholat di dalam menghadapi segala problematika hidup.

Adapun sabar secara bahasa adalah menahan, dikatakan : ” qutila fulanun shobron “
artinya : si fulan terbunuh dalam keadan ditahan. Oleh karenanya,
seseorang yang menahan diri terhadap sesuatu dikatakan orang yang
sabar.

Pelajaran Kedua :

Sabar dibagi menjadi beberapa macam  :

Pertama : Sabar di dalam ketaatan,
yaitu menata diri untuk selalu mengerjakan perintah-perintah Allah dan
Rosul-Nya. Sabar di dalam ketaatan ini adalah tingkatan sabar yang
paling tinggi, kenapa ? karena untuk melakukan suatu ketaatan,
diperlukan kemauan yang sangat kuat, dan untuk menuju pintu syurga
seseorang harus mampu melewati jalan-jalan yang dipenuhi dengan duri,
ranjau dan segala sesuatu yang biasanya dia benci dan tidak dia sukai,
sebagaimana sabda Rosulullah saw

  وحفت الجنة بالمكاره

” Dan jalan menuju syurga itu dipenuhi dengan sesuatu yang tidak kita senangi ” ( HR Muslim )

Sabar dalam ketaatan ini harus melalui tiga fase :

Fase Pertama
: Sabar sebelum beramal, ini meliputi perbaikan niat, yaitu
mengikhlaskan amal hanya karena Allah swt , dan bertekad untuk
mengerjakan ibadat tersebut sesuai dengan aturannya. Dalam hal ini
Allah berfirman :

إِلاَّ الَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أُوْلَـئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

” Kecuali orang - orang yang bersabar dan beramal sholeh.”(Qs Hud:11)

Fase Kedua
: Sabar ketika beramal, yaitu dengan selau mengingat Allah swt selama
beramal, dan tidak malas untuk mengerjakan seluruh rukun, kewajiban dan
sunah dari amal tersebut. Kalau sedang mengerjakan puasa umpamanya,
maka dia harus tetap mengingat bahwa dirinya sedang puasa dan Allah
selalu melihat seluruh amalannya, maka dia berusaha untuk menghindari
hal-hal yang dilarang oleh Allah selama berpuasa dan berusaha untuk
mengerjakan amalan sunah dan wajib, seperti membantu fakir miskin,
memberikan ifthor kepada yang berpuasa, sholat berjama’ah dan
sebagainya.
(more…)

Bookmark and Share

Ekonomi Indonesia

February 7th, 2008
Posted in Current Affairs
2 Comments

Saat ini, sistem perekonomian dunia, khususnya
negara kita, Indonesia bisa dikatakan sedang terpuruk. Nilai tukar
rupiah yang tidak kunjung menguat,
menunjukkan
kelemahan daya saing Indonesia di Pasar Global. Mengapa demikian?
Sistem Ekonomi yang saat ini diterapkan Indonesia dan banyak
negara-negara lain di Dunia adalah sistem ekonomi konvensional,
sistem yang dibuat oleh dan untuk manusia yang kurang lebih ditujukan
untuk menyejahterakan manusia yang berekonomi kuat atau kaum
kapitalis saja. Berbeda dengan sistem ekonomi Islam, yang dengan
jelas dan nyata bersumber pada AlQuran dan Hadits. Pembuat sistem
ekonomi Islam adalah langsung dari Sang Pemilik Manusia yang sangat
mengerti seluk beluk manusia dan memahami apa yang perlu dilakukan
manusia untuk mencapai kesejahteraan bersama. Sehingga sangat jelas
bahwa sistem ekonomi Islam jika diterapkan dengan benar dan sesuai
dengan sumbernya akan membuahkan kesejahteraan yang sebenar-benarnya.

Tidak hanya dari sumbernya, perbedaan lain dalam
kedua sistem ekonomi ini terletak pula pada
kurva
konsumsi. Konsumsi pada sistem ekonomi islam terdapat tambahan untuk
zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS). Sesuatu yang tidak ada pada ekonomi
konvensional. Terlihat sudah dengan jelas bahwa sistem ekonomi Islam
cenderung lebih memperhatikan aspek kesejahteraan bersama dan
solidaritas dibanding ekonomi konvensional yang cenderung egois dan
berpihak pada kapitalis saja. Padahal, dengan ketertiban zakat,
infaq, dan shodaqoh, keharmonisan hubungan antara kaum
Muzakki
dan Mustahiq
pun akan terjaga. Sehingga perilaku menyimpang akibat dorongan
ekonomi dapat terminimalisir.

Sayangnya, dari sekian banyak masyarakat muslim
Indon
esia yang benar-benar memiliki
kesadaran untuk tertib membayar zakat dan rajin berinfak masih
sedikit. Keinginan untuk menimbun harta sebanyak-banyaknya berbanding
lurus dngan keengganan untuk berbagi. Sesuai dengan hukum ekonomi
yang menyatakan bahwa keinginan manusia tak terbatas, maka segala
cara ditempuh untuk memperbanyak harta. Jika demikian, bagaimana
mungkin akan timbul semangat berbagi kalau harta yang didapat saja
bukan dari jalur yang halal. Padahal, dengan kemajuan teknologi,
telah dibuat cara-cara praktis untuk berzakat. Bahkan kini telah
dipraktekkan zakat melalui sms yang jelas memberti kemudahan. Tetapi,
hal ini tidak merubah keengganan tersebut.

Permasalahan lain ZIS terletak pada pengalokasian
dananya yang cenderung memberi kesejahteraan
melalui
kemudahan berkonsumsi. Kurang lebih hanya sekedar bantuan sementara
dan layanan fasilitas gratis untuk masyarakat kurang mampu. Seperti
yang menjadi salah satu produk dalam lembaga-lembaga distributor ZIS
di Indonesia, misalnya, ambulance dan mobil jenazah gratis, sekolah
gratis,  bantuan korban bencana, dan lain-lain. Fasilitas gratis
seperti ini memang sangat membantu golongan
Mustahiq.
Karena dengan itu, kondisi masyarakat yang terdesak dapat terbantu.
 Akan tetapi, apakah mereka akan selalu
bergantung pada ke’gratis’an tersebut? Sampai kapan?

Masyarakat mampu yang tertib berzakat diketahui
jumlahnya tidak banyak sementara kaum miskin yang merasa berhak untuk
mendapatkan haknya sangat banyak, hingga akhirnya banyak kaum miskin
yang tidak mendapatkan haknya. Sebagaimana yang terjadi pada bulan
Ramadhan 1428 H kemarin. Kekhawatiran para penerima zakat akan
habisnya zakat yang akan dibagikan kepada mereka menjadikan pembagian
zakat menjadi ajang rebutan dan tidak jarang saling sikut dan
menjatuhkan orang lain yang dianggap sebagai pesaingnya. Akibatnya,
korban yang berjatuhan tidak sedikit. Bahkan ada pula anak kecil yang
belum cukup umur   yang pingsan di tempat pembagian zakat. Kondisi
seperti ini tidak hanya terjadi di satu titik. Tetapi sebagian besar
titik-titik pembagian zakat fitrah di seluruh Indonesia. Menunjukkan
bahwa betapa banyak masyarakat Indonesia yang berada dibawah garis
kemiskinan dan merasa sangat terbantu dengan zakat, sampai saling
menjatuhkan sesama rekannya.

Ada juga golongan kurang
mampu yang lantas menggantungkan diri pada  kebaikan dan kemurahan
hati orang lain yang kemudian menyebabkannya menjadi
bermalas-malasan. Dengan terbantunya dengan kemurahan hati dan
kebaikan orang lain sehingga keinginan untuk menjadi lebih produktif
pun makin lama makin menipis dan akhirnya hilang sama sekali.
Sebagaimana yang terjadi pada mereka yang hidup dan tinggal bersama
di lingkungan masyarakat yang berjiwa sosial tinggi. Dalam kondisi
seperti ini, pengalokasian dana ZIS menjadi tidak efektif dan  kurang
mendidik kemandirian. Bahkan bisa dikatakan simbiosis parasitisme
antara si kaya dan si miskin.

Dengan dana ZIS yang ada, mengapa tidak dicoba untuk mendidik
kemandirian dan produktifitas mereka saja?

Kendala yang seringkali dianggap menghalangi
produktifitas golongan tidak mampu

terletak pada masalah finansial. Sulitnya mendapatkan bantuan untuk
suntikan modal menyebabkan usaha kecil dan keinginan untuk mandiri
menjadi terhenti. Pinjaman lunak yang bisa digunakan untuk
mempermudah pengembangan usaha mandirinya tidak mudah untuk didapat.
Kesulitan seperti ini tidak jarang menenggelamkan kembali semangat
untuk mandiri dan akhirnya kembali menggantungkan diri pada fasilitas
gratis dan  bantuan-bantuan dari pihak lain. Akibatnya, golongan
seperti ini statis dalam kondisi sulit mereka. Dalam situasi seperti
inilah ZIS dapat menjadi solusi.

Bagaimana agar dana ZIS dapat menjadi investasi
jangka panjang yang tidak hanya sekedar memberi kesejahteraan yang
sifatnya sementara saja
. Dengan ini
masyarakat tidak mampu pun menjadi terbantu secara jangka panjang
pula. Dalam kasus ini, bantuan untuk modal dan biaya operasional
dalam bentuk pinjaman lunak atau bantuan cuma-cuma khusus rakyat
miskin, dapat menjadi pemicu kaum tidak mampu untuk bangkit dan
keluar dari kesulitan finansialnya. Dengan pengalokasian yang seperti
ini, kaum tidak mampu menjadi lebih produktif dan mandiri serta
terangkat derajat sosialnya. Tidak hanya itu, kaum papa juga semakin
terlatih untuk menjadi enterpreneur.

Dengan adanya sistem seperti ini, pengusaha kecil
bahkan yang paling kecil sekalipun dapat mengembangkan ketrampilan
dan usahanya tanpa khawatir menghadapi kendala finansial.
Dan
penghasilan tetap yang didapat, sedikit banyak akan membantu
masyarakat tidak mampu.

Permasalahan yang mungkin akan timbul adalah,
kemungkinan penyalahgunaan bantuan ini untuk tujuan yang tidak
sesuai. Untuk itu, dari awal transaksi,
perlu
diadakannya perjanjian bahwa dana yang akan diberikan tersebut
benar-benar untuk sebuah usaha dengan pengembalian dapat diangsur
atau dibayar kembali tunai melalui hasil keuntungan dari usaha yang
dijalankannya tersebut.

Sistem ini telah terbukti berhasil mengentaskan masyarakat miskin dan
meningkatkan kemandirian sebagaimana yang terjadi di Bangladesh.
Muhammad Yunus, dengan…………… bank nya, mampu mengangkat
masyarakat miskin menjadi lebih produktif. Dari situlah Beliau
mendapat penghargaan Nobel tahun 2006. karena dengan bantuan modal
lunaknya untuk membiayai masyarakat miskin, dalam kasus ini
kebanyakan wanita, ribuan anak-anak tidak mampu dapat menikmati
bangku pendidikan. Banyak kaum wanita atau para ibu menjadi produktif
dan terlatih untuk  menjadi enterpreneur. Problem kemiskinan pun
dapat terpecahkan.

Bagaimana dengan Indonesia????????????

>>>to be continue

Bookmark and Share

aku

March 11th, 2007
Posted in Uncategorized
1 Comment

Puisi Karyawan Stress

AKU

Akulah karyawan paling rajin di dunia,
Berani berkorban nggak nonton Piala Dunia,
Meski hati merana tapi tetap berdedikasi ,
Meski hari sabtu gini aku tetap berdasi ,

Akulah karyawan paling pantes dapet promosi,
Selalu paling depan ngisi daftar absensi ,
Di antara rekan akulah yang paling rajin ,
Temen yang nggak masuk pun aku absenin

Jam 8 kurang udah masuk kantor ,
Tidak lupa membeli koran,
Di koran banyak berita koruptor ,
Kenapa gua nggak kebagian ?

Sekarang hidup bener-bener nggak aman ,
Pake handphone di mobil digedor kapak merah ,
Itulah kenapa aku nggak beli mobil dan handphone ,

Tahun pertama ngantor masih tinggal di kost,
Tahun ketujuh ngantor udah pindah tempat kost,
Tahun pertama pergi-pulang nebeng tukang pos,
Di saat krismon pergi-pulang nebeng boss,

Akulah karyawan yang paling setia,
Sedari peletakan batu pertama kantor, aku jadi kulinya,
Sampai kantor punya jaringan komputer, aku jadi net-admin-nya,
Sampai kantor diledakin , aku jadi otaknya… !!

Bookmark and Share

indahnya nolongin org

March 1st, 2007
Posted in Uncategorized
No Comments

Seringkali saya melihat seorang pemuda dengan sabar menyeberangkan seorang tunanetra, tangannya erat menuntun agar terhindar dari kecelakaan. Di lain tempat, pemuda lainnya memanfaatkan dua tangan kuatnya untuk membantu seorang ibu menjinjing barang belanjaan. Bukan, ia bukan kuli angkut di pasar yang biasa menjual tenaganya. Tapi ini benar-benar seorang pemuda yang dengan ikhlas membantu tanpa pamrih. Sementara itu, seorang gadis terlihat sopan mengobati luka seorang pengendara motor yang terjatuh. Dari dalam mobilnya, ia mengambil kotak obat, kemudian memberikan pertolongan pertama.
Cukupkah bagi saya hanya sebagai penonton dari aksi yang dilakukan orang-orang itu? Tentu tidak. Dari hari ke hari semakin banyak episode-episode kebaikan yang tak henti berlalu lalang di depan mata ini, semakin terdorong diri ini untuk mengetahui motif apa yang membuat mereka mau dan rela melakukan itu semua. Nampaknya agak nakal saya ketika harus bertanya tentang ’motif’ mereka, seolah saya meragukan niat ikhlas mereka dan menggantinya dengan motif kacangan, seperti imbalan materi, pamer kesalihan atau tebar pesona.
Tapi, tetap saja saya tergelitik untuk terus bertanya, dan maafkan kalau saya memang terlalu lancang untuk menanyakannya. Bukan berarti selama ini saya tak pernah menolong orang lain. Sebab katanya, orang Indonesia itu sangat ramah dan saling tolong menolong. Tapi entah kenapa, saya lagi-lagi harus bertanya tentang motif kebaikan yang dilakukan orang lain. Aksi tanya menanya itu berhenti ketika seorang sahabat yang menjadi ’korban’ pertanyaan saya menjawabnya dengan kalimat tegas, ”berhentilah bertanya, lakukan saja”.
Kemudian saya pun tak lagi melulu menjadi penonton. Setiap kali ada kesempatan untuk menolong tak terbuang sia-sia. Saya upayakan tak terlewatkan dengan kalimat andalan, ”maaf” atau berkilah sambil berharap orang lain akan membantunya. Saya percaya betul, bahwa kesempatan berbuat baik itu kadang tak datang dua kali. Sekali terlewati, sudah itu tak ada lagi. Sekali kita buang kesempatan baik itu, esok tak bertemu lagi. Tinggallah kita berharap Allah mau memberikan kesempatan kedua agar kita bisa berbuat baik.
***
Seorang bapak berusia senja memeluk saya erat seolah tak ingin saya pergi dari hadapannya. ”datanglah ke sini kapan pun, rumah kami selalu terbuka untuk anda,” ujarnya terbata-bata. Isterinya tak henti menahan-nahan saya agar tetap tinggal, kalau perlu ia mempersilahkan memilih satu dari beberapa cucunya yang mulai tumbuh dewasa untuk dipersunting. Aih.
Di lain tempat, seorang ibu tak henti berucap terima kasih hanya karena lima ribu rupiah yang saya berikan kepadanya. Ia mengaku kehabisan ongkos untuk kembali ke rumah, sambil menangis ia meminta uang untuk bisa sampai pulang.
Nampaknya saya tak perlu lagi bertanya kenapa begitu banyak orang mau menolong sesama. Pertanyaan itu tak lagi menggelitik rasa penasaran saya, dan telah terhenti. Tak perlu pula ada yang menjawab kenapa orang tak bosan berbuat kebaikan untuk orang lainnya. Karena saya telah menemukan sendiri jawaban itu. Ternyata, menolong itu nikmat. Bahkan bisa dibilang pekerjaan paling nikmat yang pernah saya tahu, saya kerjakan, dan coba saya jadikan kebiasaan dalam hidup.
Menolong tak selalu berupa materi, tak melulu berbentuk harta. Bisa jadi hanya sebuah doa yang tulus jika memang raga tak mampu, harta pun tak ada. Jika waktu tak ada, namun ada sedikit rezeki, bisalah kita membantu. Sungguh, berbuat kebaikan terhadap sesama, tak saja nikmat, tapi juga sebuah investasi dunia akhirat. Percayalah.

Bookmark and Share